Ngobrol Pintar BADKO HmI Sumatera Barat Bahas Demokrasi Indonesia

Padang, 31 Oktober 2018 BADKO HmI Sumatera Barat adakan acara Ngobrol Pintar (Ngopi) Badko HmI Sumatera Barat dalam rangka peringatan 90 tahun Sumpah pemuda. Ngopi bareng Badko HmI sumbar kali ini mengangkat tema “Demokrasi Indonesia Dari Kacamata Pemuda Sumatera Barat”

Ngopi yang di adakan di Wisma HMI & KAHMI Sumatera Barat ini di ikuti oleh 13 Cabang HMI yang tersebar pada 19 kabupaten/kota di Sumatera Barat. Pada kesempatan tersebut juga hadir Hj Emma Yohanna Sebagai Perwakilan Persedium KAHMI Sumatera Barat.

Pada sambutanya, Noprido yang merupakan Kabid Perguruan Tinggi dan Kepemudaan (PTKP) Badko Hmi Sumatera Barat mengungkapkan pihaknya Menghadirkan pembicara dari berbagai OKP di sumatera Barat yang di antaranya Wendi Juli Putra Perwakilan Badko HmI Sumatera Barat, Rodi Indra Saputra yang Merupakan Ketua Umum Pengurus Koordinasi Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Dewan Perwakilan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhamadiyah Sumatera Barat Rahmad Hidayat, turut di undang juga Dori Asra Wijaya selaku Inisiator Akasi Kamisan Padan dan Founder Teras Literasi

Selain itu Rido berharap diskusi-diskusi melibatkan OKP yang serupa dengan tema yang berbeda hendaknya selalu kita lakukan demi memberikan masukan dan rekomendasi kepada pemerintah dengan tujuan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sementara itu Ibu Hj Emma Yohanna sangan mengapresiasi acara tersebut “saya sangat mengepresiasi acara ini, karena sudah menjadi kewajiban kaum muda untuk mengarahkan politik indonisia ini mau dibawa kemana” ungkapnya.

Hj Emma Yohanna

“Saya Selaku kaum muda juga akan selalu mendukung kegiatan pemuda yg seperti ini, biar jauh dari LGBT” guyonan Hj Emma karena menurut beliau usianya masih dalam rentang pemuda/pemudi sesuai aturan UNESCO (rentang umur pemuda 18-65 Tahun).

Sedangkan menurut paparan Dori Asra Wijaya, Peserta, pengawas bahkan penyelenggara pemilu tidak lagi memberikan pencerdasan kepada masyarakat sehingga hal ini sangat buruk bagi demoksrasi indonesia.

Sementara itu Ryan Hidayat Menyimpulkan perperangan politik di Indonesia hari ini hanya akan membuat masyarakat APATIS terhadap pemilu sehingga mengakibatkan masyarakat menjadi PRAKMATIS dan pada akhirnya terjadi TRANSAKSIONAL politik di masyarakat.

Dilain sisi Rodi Indra Saputra memandang Demokrasi Indonesai hari ini terancam oleh digitalisasi demokrasi. Digitalisasi demokrasi hari ini memiliki peran penting di indonesia yang mengembangkan ideologi baru sehingga mengakibatkan berkembang pesatnya radikalisme, extrimisme, hoax sampai terorisme.

Wnedi Juli Putra mengungkapkan Penerapan demokrasi di Indonesia sebernarnya sudah baik, hanya saja belum terkonsolidasi. Hal ini dapat dilihat dari beberapa indikator.

Pertama, masih adanya kelompok-kelompok yang kurang sepakat dengan gaya demokrasi yang dijalankan pemerintahan hari ini.

Kedua, banyaknya masyarakat yang mengeluh tentang sistem demokrasi yang berjalan hari ini di imdonesia.

Ketiga, dalam hitungan beberapa bulan lagi Indonesia akan melaksanakan pesta demokrasi 5 tahunan. Semua unsur sudah ada seperti peserta, pelaksana, pengawas, pengaman, dll. Akan tetapi masih saja kita lihat belum profesional dalam menjalankan fungsinya.

“Pemilu indonesia itu tinggal kurang lebih lima bulan lagi, tapi kita lihat di masyarakat tidak banyak yang dilakukan oleh penyelenggara baik itu tentang pengawasan, sosialisasi sistem maupun aturan main pemilu pada 27 April 2018” tutul Wendi

 

 

Related posts