INDAHNYA TAHUN BARU UNTUK KESATUAN UMAT

Oleh :

Yunaldi

Wakil Sekretaris Umum bidang Pemberdayaan Umat BADKO HMI

Perayaan tahun baru yang beberapa hari sebelumnya (25 Desember) diikuti juga dengan perayaan hari raya natal bagi umat kristiani, tidaklah persoalan baru dan tidak hanya terjadi tahun ini saja, namun menjadi menarik ketika tahun baru kali ini (2019) dengan banyaknya pejabat publik mengeluarkan surat edaran termasuk juga beredarnya beberpa vidio-video yang memuat konten persoalan selamat dan ajakan memperingati perayaan hari raya natal,  membuat tahun baru kali ini menjadi menarik dan menyita perhatian publik, ditambah tahun baru kali ini berbarengan dengan penyelenggaraan pesta demokrasi terbesar di indonesia.

Tahun baru atau bisa disebut dalam artian lain malam pergantian  awal tahun, tidak hanya dirayakan oleh masyarakat lokal dan nasional namun juga dirayakan oleh masyarakat internasional, melewati malam tahun baru, mestinya tidak identik dengan perayaan dalam artian konotatasi negatif namun juga bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif.

Hakikat yang terjadi mestinya tidak perlu ada perbedaan, baik pergantian awal tahun hijriah ataupun awal tahun baru masehi karena keduanya memang ditemukan dalam al-Qur’an sebagai tanda kebesaran sang pencipta bagi orang-orang beriman yang mau berfikir (red QS. 36: 37-40) dan tidak perlu dipermasalahkan, yang mesti dievaluasi itu adalah kebiasaan melalui malam tahun baru ini (tahun baru masehi).

Seharusnya persoalan-persoalan ini tidaklah menjadi masalah yang serius ketika semua pihak mau belajar dan memahami serta memberikan edukasi moral sejak awal yang dimulai dari individu, keluarga, lembaga-lembaga terkait, pemerintah tertinggi dan pemerintah di lapisan bawah dan masyarakat  pada umumnya.

Adalah hal yang tidak bisa kita pungkiri dan kita pisahkan dalam melewati malam pergantian tahun, di dalamnya terdapat persoal pemenuhan isi perut dan persoalan pemuasan nafsu belaka yang memang tidak begitu banyak bisa dikekang oleh orang lain melainkan oleh oleh yang bersangkutan yang tidak bisa lepas dari sumbangsi moral dan agama.

Menyikapi hal tersebut di atas ada persoalan mendasar yang bisa dilihat ketika masyarkat melewati tahun baru masehi, yaitu persoalan fenomena sosial yang sudah mengalami pergeseran nilai saat melewati malam tahun baru, serta tidak bisanya memisahkan persoalan ini dengan persoalan agama dalam hal ini keterkaitannya dengan aqidah bagi umat muslim, persoalan ini harus mendapatkan sentuhan yang serius, tidak hanya sekedar melarang ini dan itu dalam melewati tahun baru, namun juga mesti dicarikan jalan keluar sehingga tidak menjadi perdebatan yang menimbulkan keambiguan berfikir di tengah masyarakat.

Setiap melewati tahun masehi bisa ditemukan fenomena sosial masyarakat yang membuat keresahan bagi masyarakat lain sebagai contoh banyak letusan kembang api yang ikut menandai pergaintian malam tahun baru yang juga menyangkut persoalan sosial dan ekonomi masyarakat dan sikap mubazir yang dilarang bagi pemeluk keyakinan islam, tarmasuk juga ramai dan maraknya tempat hiburan malam tempat-tempat rekreasi termasuk juga puncak-puncak gunung tertinggi, pulau-pulau rekreasi, bibir-bibir pantai serta hotel-hotel berbintang setempat yang dijadikan sebagai sasaran tempat melakukan maksiat bagi mereka yang tidak memegang nilai-nilai agama dan sosial.

Persoalan-persoalan fenomena sosial dan agama di atas sudah seharusnya mendapat perhatian khusus bagi pemangku kepentingan agar masyarakat tercerahkan dan tercerdaskan dalam mengambil sikap yang positif dan bermanfaat dalam melewati tahun baru bagi orang lain.

Disamping persoalan-persoalan sosial di atas, di indonesia hal ini juga dikaitkani dengan masalah toleransi yang sejatinya setiap agama yang ada dan diakui di indonesia  sudah saling memahami batas toleransi masing-masing dalam agama masing-masing. Islam umpamnya sangat menjunjung tinggi dan mengajarkan toleransi baik antar umat seagama maupun antar umat berbeda agama.

Melarang perayaan tahun baru bukan menjadi suatu solusi yang tepat dalam melakukan rangkaian aktifitas melewati malam tahun baru karena itu merupakan kesadaran individual bukan kesadaran kolektif yang bisa diarang oleh siapapun. Oleh karenanya yang menjadi pokus perhatian bukanlah fenomena sosial masyarakat yang terjadi saat melewati malam tahun baru melainkan pendidikan moral dan agama yang memang wajib dan harus diperkuat sehingga tidak menjadikan perdebatan dan keresan bagi banyak orang.

Sejatinya pergantian awal tauhun atau malam tahun baru merupakan kilas balik serta awal menghitung-hitung diri tentang sejauh mana kita telah memamfaat usia satu tahun kebelakang baik dalam persoalan agama maupun persoalan sosial artinya sejauh man kemanfaatan kita bagi agama dan masyarakat.

Dalam keyakinan islam, melewati malam pergantian tahun, kita diajarkan doa awal dan akhir tahun serta perganitian buku catatan amalan setahun, baik kita hitung setahun hijriah ataupun setahun masehi, tidak terdapat persoalan yang rumit mestinya ketika kita ini kita lalui dengan penuh kesadaran dan kesungguhan penerjrmahan atau interpretasi agama dalam kehidupan.

Bila dihayati dan ditela’ah lebih jauh dan kita mau melakukan otokritik bagi diri sendiri maka semestinya pertukaran tahun tidak akan menimbulkan masalah yang serius dan rumit serta selalu menjadi polemik dalam setiap mengahdapi dan melalui malam pergantian tahun disetiap tahunnya.

Secara agama bisa kita pandang sebagai upaya menghisab-hisab diri sejauh mana kehadiran agama dalam mengatur hidup kita dan secara sosial bisa kita lakukan kegiatan-kgiatan positif dan bermanfaat bagi orang lain.

Layaknya pelagi yang memiliki keragaman warna sehingga menjadi terlihat indah, maka memahami keragaman juga harus sama sehingga pihak manapun tidak akan mampu memecah belah baik dari dalam maupun dari luar dengan demikian akan terwujud perdamaian abadi dan perdamain yang tersa indah maka dengan sendirinya kecurigaan akan hilang dan kedewasaan dalam keragaman akan terwujud.

akhirnya untuk para kader umat dan bangsa, mari memanfaatkan malam pergantian tahun baru dengan mandiskusikan pokok-pokok pikiran dan ide-ide untuk merumuskan gagasan dan jalan politik untuk persatuan umat, mencarikan formulasi-formulasi untuk kesatuan dalam keragaman dan perbedaan sihingga sampai pada satu kesimpulan akhir bahwa perbedaan dan kergaman itu kemestian dan keindahan.

Related posts

Leave a Comment