POLIGAMI : Pahit Manisnya Madu

Oleh : Kirana Pungki Apsari
Ketua Bidang Kajian dan Advokasi
KOHATI HMI BADKO Sumatera Barat

Poligami saat ini sedang menjadi polemik di tengah masyarakat, poligami memang menjadi isu sensitif bagi aktivis feminis garis keras dan menolak mentah-mentah tanpa dasar yang jelas mengenai poligami, poligami berasal dari bahasa Yunani “Polygamie” yaitu “Poly” berarti banyak dan “gamie” berarti laki-laki, jadi arti dari poligami adalah laki-laki yang beristri lebih dari satu orang perempuan dalam satu ikatan perkawinan, sebetulnya masyarakat Indonesia tidak semestinya sensitif dengan poligami karena beberapa tokoh bangsa ini melakukan poligami, sehingga tidak perlu memunculkan pandangan yang seolah-olah laki-laki yang poligami itu menjijikan, namun sebagai manusia yang mampu menggunakan akal pikiran dengan baik tentu mencari tau landasan ketentuan poligami dalam Islam dan menurut hukum positif Indonesia.

Poligami termasuk persoalan yang mengundang pro dan kontra yang tidak ada habisnya, golongan anti poligami memiliki persepsi bahwa poligami merupakan pelanggaran HAM dan merupakan bentuk eksploitasi, diskriminasi dan penindasan terhadap perempuan serta memandang remeh dan hanya menjadikan perempuan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan biologis bahkan merupakan merampas hak-hak perempuan secara utuh, yang mana tujuan dari perkawinan selain dari pada mendapatkan keturunan secara sah dihadapan agama dan hukum positif Indonesia serta memperolah kebahagiaan dan ketenangan lahir batin, namun dengan adanya poligami menjadi bencana dalam rumah tangga.

Menurut golongan yang mendukung poligami memiliki pandangan bahwa poligami berupakan anjuran dari agama yang hukumnya sunnah.Poligami merupakan hal yang menjauhkan dari perbuatan praktik seksual yang haram dan menjauhkan dari perbuatan zina yang sangat dilarang oleh agama, poligami juga memelihara kehormatan diri, memperbanyak keturunan dan generasi muslim. Kemudian pada akhir zaman ini lebih banyak jumlah perempuan dari pada laki-laki sehingga poligami persoalan tersebut dapat diatasi dan menyelamatkan perempuan itu sendiri.

Dalam agama Islam poligami adalah hal yang dapat di terima dengan berlandaskan pada Al-qur’an, hadits, ijma furaqa mazhab-mazhab Islam dan telah dipraktekkan olah kaum muslimin, dalil yang paling penting dalam praktik poligami adalah Surah An-Nisa ayat 3 yang artinya :

“Dan jika kamu takut tidak akan berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi ; dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”

berdasarkan surah ini dijelaskan mengenai batasan jumlah dalam poligami, dengan batasan 4 perempuan dan tentunya dengan syarat harus berlaku adil kepada perempuan-perempuan tersebut.

Kemudian melihat kepada kisah Rasulullah SAW yang memiliki 9 istri yang memberi kontribusi besar dalam memajukan agama Islam hingga mencapai titik seperti sekarang ini, kemudian kesembilan tersebut di khusukan untuk Rasulullah SAW, sedangkan kita sebagai umatnya hanya diperbolehkan poligami tidak lebih dari empat istri. kebolehan poligami dalam Islam berdasarkan individu, sosial, tabiat dan kondisi fisik dan biologis dari laki-laki dan perempuan serta kebutuhan-kebututuhan.

Kebolehan poligami tentunya tidak lepas dari pada kentuan dan syarat, syarat pologami adalah adil hal ini seperti yang telah dijelaskan pada Surah An-Nisa ayat 3 :

“Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”

artinya tidak adanya pelanggaran hak-hak terhadap perempuan, hal ini dimaksud dalam persoalan internal dan eksternal dalam rumah tangga, seperti kebutuhan secara finansial dan kebutuhan biologis, dan pada Surah An-Nisa ayat 129 yang artinya :

“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhkan Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang”.

Dari penjelasan tersebut dalam praktik poligami tidak boleh ada kecenderungan terhadap salah seorang istri baik itu soal finansial, biologis maupun masalah cinta harus adil dan sama perlakuannya. Oleh karena itu Rasulullah SAW bersabda yang artinya :

“Ya Allah, ini adalah pembagian ku terhadap apa yang mampu aku menguasainya, maka janganlah mencelaku terhadap apa yang engkau kuasai dan tidak ku kuasai” (HR. Abu Daud).

Artinya dalam hal ini setiap laki-laki mampu untuk berlaku adil kepada istri-istrinya dalam hal nafkah dan biologis. Adil secara lahir dapat dilakukan dengan memberi perhatian, bimbingan dan layanan akan tetapi bukan dalam masalah cinta dan hasrat hati kerena tidak ada yang mampu menguasai hati selain Allah yang menumbuhkan cinta di dalam hati tersebut.

Menikahi lebih dari satu orang perempuan maka akan menambah tanggung jawab sebagai suami, tidak hanya persoalan nafkah lahir dan batin, oleh karena itu syarat poligami juga mampu menjalani kewajiban membimbing istri-istri seta anak-anaknya sesuai dengan syariat Islam, kerena suami adalah imam dalam keluarga dan apabila istri-istri dan anak-anaknya bersikap tidak sesuai dengan aturan agama maka suami juga ikut berdosa, sebagaimana firman Allah dalam Al-qur’an Surat Thaha ayat 132 yang artinya :

“Perintahkanlah keluargamu untuk melaksanakan sholat dan bersabarlah dalam menegakkannya”

Ketika seorang laki-laki poligami syarat penting salah satunya adalah adil dalam nafkah, sehingga sibuk mencari nafkah untuk menhidupi keluarga dan sibuk bersenang-senang dengan istri-istrinya, oleh karena itu syarat poligami berikutnya yaitu tidak boleh melalaikan ibadah kepada Allah, maka harus dipahami ini semua merupakan tanggung jawab yang besar bagi seorang laki-laki dalam poligami, jangan sampai terlena oleh nikmat dunia yang hanya sesaat sedangkan tujuan kita yang sesungguhnya adalah akhirat.

Secara yuridis formal poligami di negara Indonesia diatur pada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam (KHI) bagi penganut agama Islam.

Disebutkan dalam Pasal 3 (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan bahwa :

  1. Pada asasnya dalam suatu perkawinan seorang pria hanya boleh memiliki seorang istri, begitu juga sebaliknya seorang wanita hanya boleh memiliki seorang suami.
  2. Pengadilan dapat memberi izin kepada seorang suami untuk beristri lebih dari seorang wanita apabila dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan.

Dalam hal ini ditegaskan bahwa pengadilan boleh memberikan izin kepada suami untuk beristri lebih dari satu, dalam memberikan keputusan pengadilan memeriksa persyaratan tersebut.

Pada Pasal 4 (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan menegaskan bahwa : (2) Pengadilan dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini hanya memberi izin kepada seorang suami yang akan beristri lebih dari seorang bila:

  1. Istri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai istri.
    b. Istri mendapat cacat atau penyakit yang tidak bisa disembuhkan.
  2. Istri tidak dapat melahirkan keturunan

Selanjutnya dalam Pasal 56 Kompilasi Hukum Islam menjelaskan bahwa :

  1. Suami yang hendak beristri dari satu orang harus mendapat izin dari Pengadilan Agama.
  2. Pengajuan permohonan izin dimaksud pada ayat (1) dilakukan menurut tata cara sebagaimana diatur dalam BAB VIII Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974.
  3. Perkawinan yang dilakukan denga istri kedua, ketiga atau keempat tanpa izin dari Pengadilan Agama, tidak mempunyai kekuatan hukum.

Hal-hal tersebut merupakan persyaratan formal poligami yang harus dijalani oleh seorang laki-laki yang ingin beristri lebih dari satu orang. Peraturan ini dibuat sebagai perlindungan hukum bagi warga negara Indonesia karena Indonesia adalah negara hukum sehingga segala sesuatu yang berhubungan dengan warga negara harus di ketahui oleh pihak yang berwenang.

Syarat untuk melakukan poligami baik menurut Islam dan hukum positif Indonesia sebetulnya cukup berat dan memiliki aturan-aturan yang cukup jelas. Sebetulkan tidak ada yang salah dengan poligami, fenomena yang menjadi polemik saat ini adalah pelaku poligami yang tidak mengetahui tata cara poligami sesuai syariat dan hukum positif Indonesia hanya untuk memenuhi hawa nafsu maka hukumnya adalah haram minsalnya seorang perempuan telah menunaikan kewajibannya sebagai istri dan telah memiliki keturunan namun suaminya menikah dengan perempuan lain tanpa sepengetahuan istri pertamanya dan didalam masyarakat sekarang ini jika sudah demikian suami tersebut akan cenderung kepada istri barunya hal ini telah melanggar aturan Agama dan aturan hukum positif Indonesia.

Oleh karena itu, untuk poligami harus dipertimbangkan secara matang bukan hanya dengan alibi menyelamatkan perempuan sedangkan istri yang sah dan telah memberikan keturunan di sia-siakan masalah seperti ini yang sering terjadi didalam masyarakat, Rasulullah SAW bersabda “Jika engkau melihat seorang wanita, lalu ia memikat hatimu, maka segeralah datangi istrimu.

Sesungguhnya istrimu memiliki seluruh hal seperti yang dimiliki oleh wanita itu’’ (HR. Tirmidzi). Lihat lah bagaimana Islam memuliakan perempuan, melarang untuk meyakiti dan menyianyiakan perempuan.

Kemudian untuk perempuan yang menjadi istri kedua harus mengetahui bahwa menjadi istri kedua, ketiga atau keempats, suami harus mendapatkan memperoleh izin dari istri pertama dan disahkan melalui pengadilan agama, sebab jika tidak statusnya sebagai istri kedua, ketiga dan keempat tidak diakui secara hukum, sehingga poligami adalah berkah dan ibadah bahkan bisa menjadi bencana bila dilakukan tidak sesuai dengan syariat dan aturan hukum positif Indonesia.

Related posts