Perempuan dan Realita Kesetaraan Gender

Oleh:
Ikhlimah
Ketua umum Korps HMI-Wati Badko Sumatera Barat

Pemberdayaan perempuan yang berarti meningkatkan kualitas dan peran perempuan pada semua aspek kehidupan baik secara langsung atau tidak langsung. Pemberdayaan perempuan sangat berhubungan erat dengan kemajuan pembangunan. Peran keperempuan dalam melanjutkan estapet pembangunan semakin disadari oleh pengemban kekuasan di negri yang berdaulat.

Sehingga Karls (1995) memandang bahwa pemberdayaan kaum perempuan sebagai suatu proses kesadaran dan pembentukan kapasitas (capacity building) terhadap partisipasi yang lebih besar, kekuasaan dan pengawasan dalam pembuatan keputusan dan tindakan transformasi agar menghasilkan persamaan derajat yang lebih besar antara perempuan dan kaum laki-laki

Indonesia salah satu negara yang sangat menjunjung tinggi harkat dan martabat perempuan. Peran perempuan dalam pembangunan indonesia sudah dirasakan sejak zaman penjajahan, dengan lahirnya pejuang keperempuan hingga perjuangan pendidik indonesia dari kalangan perempuan. Hal ini membuktikan bahwa mempunyai andil yang besar dalam pembangunan indonesia.

Seperti yang dikemukakan oleh R.A. Kartini, bahwa tiap wanita mesti memiliki kemandirian, agar dirinya punya kuasa dan posisi dalam hubungan domestik, keluarga, dan lingkungan sosial. Tidak bisa dipungkiri bahwa peran perempuan di dalam membangun ketahanan bangsa, sudah dirasakan dampaknya, terutama dalam sektor informal.

Perempuan yang populasinya hampir sama dengan laki-laki adalah sumber daya manusia yang potensial bagi pembangunan. Saat ini sudah terbukti, banyaknya wanita yang sukses, intinya kaum perempuan saat ini lebih bermartabat, selalu berkarya dengan tetap berpegang pada hakekatnya sebagai perempuan yang diciptakan untuk membantu pendapatan keluarganya.

Meskipun begitu masih terdapat ketimpangan ataupun diskriminasi terhadap perempuan, meskipun terlihat semu. Contohnya saja pada dunia kerja, masih terdapat Pendiskreditan terhadap perempuan pada bidang-bidang pekerjaan tertentu yang mana perempuan di anggap tidak mampu dan tidak terampil dalam bidang tersebut. Banyaknya persoalan-persoalan keperempuan yang masih belum tertuntaskan, maka dirasa perlu pemikir-pemikir dan penggiat-pengiat keperempuan untuk bisa mencarikan jalan keluar agar diskriminasi keperempuan dapat di atasi.

Jika problematika ini tetap dibiarkan maka perempuan tak akan pernah dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan yang berpengaruh pada kemajuan bangsa.

Mengintegrasikan gender ke dalam arus pembangunan dengan cara menempatkan perempuan sebagai subjek pembangunan dan menghilangkan faktor kendala yang dihadapi perempuan dalam pembangunan dengan melakukan kegiatan analisis dan evaluasi adalah merupakan sebuah jalan keluar dari persoalan diskriminasi keperempuan.

Jika berbicara mengenai diskriminasi maka solusi yang harus du gunakan untuk menghapus diskriminasi tersebut adalah menanamkan kesetaraan gender di dalam lingkungan keluarga, Kesetaraan gender berarti kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, hukum, ekonomi, sosial budaya, pendidikan dan pertahanan dan keamanan nasional (hankamnas), serta kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan tersebut. Kesetaraan gender juga meliputi penghapusan diskriminasi dan ketidak adilan struktural, baik terhadap laki-laki maupun perempuan. Keadilan gender adalah suatu proses dan perlakuan adil terhadap perempuan dan laki-laki.

Dengan keadilan gender berarti tidak ada pembakuan peran, beban ganda, subordinasi, marginalisasi dan kekerasan terhadap perempuan maupun laki-laki. Terwujudnya kesetaran dan keadilan gender ditandai dengan tidak adanya diskriminasi antara perempuan dan laki-laki, dan dengan demikian mereka memiliki akses, kesempatan berpartisipasi, dan kontrol atas pembangunan serta memperoleh manfaat yang setara dan adil dari pembangunan. Memiliki akses dan partisipasi berarti memiliki peluang atau kesempatan untuk menggunakan sumber daya dan memiliki wewenang untuk mengambil keputusan terhadap cara penggunaan dan hasil sumber daya tersebut. Memiliki kontrol berarti memiliki kewenangan penuh untuk mengambil keputusan atas penggunaan dan hasil sumber daya. Sehingga memperoleh manfaat yang sama dari pembangunan

Related posts