KETIKA PERSOALAN BILIK MENGGELITIK PUBLIK

Oleh :
Yunaldi
Wakil Sekretaris Umum bidang Pemberdayaan Umat BADKO HMI

Sebuah buku yang diterbitkan oleh semesta hikmah publishing 2018, berjudul “ya rasul izinkan aku berzina” membuat cuplikan singkat tentang kisah seorang pemuda dimasa rasulullah, yang terang-terangan datang kepada rasul dan mengatakan “ya rasul izinkan aku berzina” sontak para sahabat yang mendengarkan ucapan ini geram dan spontan membentak, memarahi dan ingin mengusir pemuda ini namun rasul hanya tersenyum seraya menarik nafasnya dan menyuruh pemuda itu mendekat. “Mendekatlah” ajakan beliau sehingga pemuda itupun mendekati rasullullah.

Alangkah tidak bermoralnya pemuda ini, bila kita hanya melihat dan menjage dari satu sudut pandangan picik kita saja, tanpa mau mendengarkan dan mencari tahu terlebih dahulu motivasi apa yang mendorongnya mau melakukan itu? serta apa penyebab pernyataan ini bisa keluar dari mulut seorang pemuda biasa kepada seorang junjungannya yang mulia ? seolah-olah tidak mempunyai rasa malu dan tidak mengharmati sosok yang paling mulia.

Hal serupa di atas ternyata bukanlah persoalan kemaren sore terjadi sepanjang peradaban manusia ini ada, dan tidak pula hanya di sebabkan oleh pemenuhan hasrat dan pemuasan keinginan nafsu semata, persolan ini sudah ada sejak lama dan berurat-berakar pada masyarakat, sulit untuk ditinggalkan apalagi dihilangkan. Padahal semua manusia pasti menyepakati bahwa hal ini tidak bisa diterima oleh akal sehat(nurani) terlebih moral-agama.

Persoalan ini sama sekali tidak ada menariknya untuk ditulis dan disuguhkan ke media publik, karna ini persoalan privasi dan akan mengusik banyak kalangan yang berkepentingan, terlebih akhir-akhir ini perhatian kita semua tersita dan tertuju pada satu fokus yaitu persoalan politik, seolah-olah dipublik ini tidak ada persoalan lain yang perting selain hanya membicarakan dan menyuguhkan persoalan politik.

Kasus-kasus pendidkan seperti “kenakalan-kenakalan siswa, narkoba, bahkan pelecehan seksual yang berujung pembunuhan siswa seolah luput dari sorotan media, padahal ini merupakan persoalan-persoalan mendasar yang bila dibiarkan akan menjadi embrio terhadap kasus-kasus besar bangsa dikemudian hari, disamping pendidikan merupakan pondasi dasar bagi keberlangsungan hidup manusia.

Pertanyaan-pertanyaan mendasar dari semua persolan-persoalan yang terjadi, adalah apa yang menyebabkan ini terjadi ? apakah persoalan pendidkan, ekonomi, moral, hukum yang tidak pasti atau pemahaman agama yang dangkal ?
Pertanyaan-pertanyaan ini patut kita tanyakan dan kita renungkan untuk mendapatkan jawaban yang pasti dan mencarikan solusi yang tepat, minimal mampu mengurangi perbuatan-perbuatan amoral di atas, kalaupun tidak akan menghilangkan secara keseluruhan dan memutus akar rumput secara keseluruhan.

Penulis meyakini pelaku-pelaku amoral di atas meyakini semua perbuatan-perbuatan amoral tersebut merupakan perbuatan salah dan bertentengan dengan nuraninya masing-masing, sayangnya kita selalu terjebak dan lambat mau mengambil pelajaran dari semua peristiwa yang berulang, sehingga peristiwa ini selalu berulang di tempat, waktu dan pelaku yang berbeda.
Sejatinya tumpukan persolan di atas dan persoalan-persoalan yang belum muncul kepermukaan yang bisa saja melibatkan lebih banyak lagi pelaku-pelaku lain, tidak terepas dari persolan pendidikan, ekonomi, moral dan agama karena semuanya saling memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perilaku manusia serta bisa menentukan pola pikir, pola tindak, pola sikap dan gaya hidup manusia.

Ini juga bertinya bahwa ada yang belum selesai pada persolan pendidikan, ekonomi, keadilan, hukum, moral dan agama kita sehingga belum mampu menjawab dan memberikan solusi untuk menghilangkan persoalan-persoalan yang terjadi pada akar rumput.

Balik ke isi buku di atas yang ingin penulis bahas, perhatian para sahabat yang awalnya asik menyimak dan menunggu hadist-hadist dan nasehat-nasehat nabi serta merta tertutuju pada sosok pemuda tadi yang terang-terangan mengakatakan perkataan yang tidak senonoh kepada nabi, namun nabi hanya tersenyum dan memintanya mendekat.

Teori andragogi dalam kajian pendidkan orang dewasa menyatakan bahwa “pendidikan dengan cara menghardik dan membentak tidak semua benar dan efektif digunakan untuk melarang seseorang yang sudah dewasa untuk tidak melakukan semua yang hal yang dilarang” malah bisa memancing emosi yang tidak terkendali dan menyebabkan tidak tercapainya tujuan pendidikan yang sejati.

Pendidikan itu kasih sayang, pendidikan itu cinta, pendidikan itu kelembutan, balutan tutur yang halus dan menyentuh, pendidikan itu memberikan contoh, memberikan solusi, pendidikan itu menyejukan dan menghilangkan dahaga-kehausan dan menyuguhkan solusi pendidikan itu membuat orang mandiri dan cerdas dalam berfikir, berbuat dan bersikap sehingga pendidikan itu mampu memberikan penyadaran kepada manusia bahwa dia manusia yang sejatinya berbeda dengan makhluk lain pendidikan itu memanusiakan manusia.

Hal-hal di atas telah dicontohkan oleh nabi pada pemuda yang pada akhirnya menemukan jalan kebenaran dalam hidupnya sehingga ia bertobat dan kembali kejalan yang benar. Lalu bagaimana nabi memberikan jawaban yang bijak dan respon yang tepat pada pemuda ini ? amat sederhana bila kita ingin mencontoh dan menirunya.

Nabi hanya mencoba memberikan jawaban dengan kembali bertanya pada pemuda tersebut tanpa mau menggubris pernyataan pemuda itu yang hanya akan berujung pada menguras emosi dan kemarahan, ketika pemuda itu mendekat pada nabi dengan lemah lembut dan ucapan kesantunan, lalu nabi bertanya pada pemuda itu “apakah engkau mau kalau hal yang kamu inginkan ini terjadi pada ibumu, atau pada adikmu, atau pada istrimu, atau pada anak perempuanmu, atau pada saudari perempuanmu”? Sontak pemuda itu tersadar dan terperanjat dan menyesali perbuatannya.

Semua pertanyaan-pertanyaan nabi tadi dijawab oleh pemuda itu dengan jawaban sadar bahwa “dia tidak mengingikan itu terjadi pada keluarganya”. Kemudian pertanyaan-pertanyaan yang beliau lontarkan kepada pemuda itu dilengkapinya dengan kalimat bijak sana yaitu“sama sepertimu, orang lain juga tidak akan menginginkan itu terjadi pada keluarganya” kisah singkat ini sangat berharga bagi orang-orang yang punya nurani. semoga

Related posts