Orang Tua dan Sekolah Harapkan Serius Tangani Kasus Bullying

Kirana Pungki Apsari, S.H
( Ketua Bidang Kajian & Advokasi KOHATI BADKO HMI SUMBAR )

Tindakan bullying bukanlah hal yang langka yang terjadi di Indonesia, dengan kemajuan teknologi saat ini agaknya tidak diimbagi dengan perilaku yang baik bagi anak pada masa ini. Kemajuan teknologi yang tidak diimbangi dengan pengawasan menimbulkan perilaku yang tidak baik oleh anak yaitu perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma didalam masyarakat seperti Bullying.

Bullying adalah tindakan di mana satu orang atau lebih mencoba untuk menyakiti atau mengontrol orang lain dengan cara kekerasan. Ada banyak jenis bullying. Bisa menyakiti dalam bentuk fisik, seperti memukul, mendorong, dan sebagainya. Dalam bentuk verbal adalah menghina, membentak, dan menggunakan kata-kata kasar.

Setidaknya di akhir tahun 2018 hingga awal 2019 ini bullying (kekerasan) yang telah sering terjadi di Indonesia. Mirisnya itu terjadi dikalangan pelajar, terutama yang menjadi topik hari ini yaitu kasus bullying yang dialami oleh siswa SMP di Pontianak, hingga saat ini menimbulkan stigma di tengah masyarakat Indonesia ini dalam masa darurat moral.

Pemicu bullying biasanya dipengaruhi oleh pola pendidikan yang salah, baik itu pendidikan dari orang tua maupun disekolah, sosok yang menjadi contoh kurang memberikan cerminan yang baik.

Bullying memberi dampak yang cukup besar pada anak dan perkembangan karakternya. Anak tentunya belum dapat menyelesaikan sendiri masalahnya yang berkaitan dengan gangguan dari teman lainnya. Oleh karena itu orang tua harus bisa membangun komunikasi yang baik dengan anak dan membantu anak dalam menyelesaikan masalahnya.

Dampak bullying sangat berbahaya karena korban mendapatkan kekerasan secara psikis maupun fisik, sehingga menurunnya kepercayaan diri, rasa takut yang luar biasa, trauma, bahkan dalam beberapa kasus, anak yang tak kuat menerima bullying lebih banyak menyendiri, depresi hingga bunuh diri.

Saat ini pendidikan moral dan agama memiliki jam pelajaran yang sedikit, oleh karena itu pendidikan moral dan agama dari sekolah saja tidak cukup, peranan orang tua sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak, oleh karena itu orang tua tidak bisa menyerahkan seluruhnya pendidikan moral dan agama kepada sekolah.

Peran orang tua pun sangat penting dalam perkembangan anak mencari jati dirinya, yang notabenenya mereka adalah seorang yang beragama, sehingga orang tua harus menanamnya nilai-nilai agama sejak kecil seperti berperilaku baik, saling menghargai dan menghormati kepada sesama.

Ibu, sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya harus mampu membentuk pondasi aqidah yang kuat dan pemahaman yang benar tentang kehidupan sebagai masyarakat dan makhluk sosial. Begitu pun Ayah, semestinya dapat ikut serta dalam melakukan pengasuhan di dalam rumah.

Maka dari itu sekolah dan orang tua perlu mengoptimalkan seluruh komponen agar memperhatikan dan meningkatkan pengawasan lebih ekstra terhadap anak.

Related posts

Leave a Comment